Apakah Perkembangan Teknologi Menakutkan?

April 12, 2020, By Kompasiana.com

Era digitalisasi dimana-mana, memasuki semua lini sektor kehidupan. Coba analisis sektor mana yang belum dimasuki oleh mahkluk bernama teknologi ini. Kita analisis saja dari sektor yang ada di Indonesia.

- Pendidikan ? Sudah sejak lama ada media digital untuk pembelajaran. Zenius.com sangat terkenal sebelum sekarang mulai bermekaran digital platform baru seperti ruang guru ataupun sekolahmu.com

- Manufaktur ? Banyak sistem automatisasi diterapkan pada proses produksi perusahaan.

- Pemasaran ? Meningkatnya jumlah pengguna internet dan sosial media di Indonesia, akhirnya membuat pelaku bisnis menambahkan atau merubah strategi mereka yang awalnya fokus pada pemasaran offline. Kini pemasaran online banyak kita jumpai. Bahkan menciptakan jenis bisnis baru bernama online shop.

- Pembayaran ? Jika awalnya kita mengenal mbanking. Saat ini bahkan banyak sistem pembayaran yang lebih menarik untuk kaum milenial dengan berbagai promo dan kemudahan yang didapat. Sebut saya seperti OVO, Gopay, Dana, E-money dll.

- Sistem belanja ? Dulu sekali, ada olx.com yang berfokus pada penjualan barang second/bekas. Terus berkembang dengan keberadaan Tokopedia, Bukalapak, lalu masuklah pesaing global dari Singapore yang kini menjadi marketplace terbesar juga di Indonesia (Shopee).

- Transportasi ? Siapa pernah membayangkan pemesanan transportasi seperti ojek atau taxi tinggal klik menggunakan ponsel. Jika sebelumnya kita memesan ojek harus datang ke pangkalan. Kita pesan taxi harus telepon. Sekarang kapanpun dan dimanapun, kita bisa melakukannya dengan keberadaan company bernama GOJEK dan GRAB.

Sistem digitalisasi tersebut akan terus berkembang. Terlebih dengan keberadaan Artificial Intelegent, yang diprediksi akan menjadi kekuatan baru di masa depan. Akan tetapi, dibalik kesuksesan teknologi, keuntungan yang didapatkan. Tentu ada hal yang dikorbankan (cost opportunity dalam ilmu ekonomi). Apa itu ?

Kalau belajar online lebih murah dan fleksibilitas tinggi. Kesempatan itu akan menjadi pilihan pertama anak-anak dibandingkan kursus les offline di lembaga-lembaga bimbingan belajar.

Kalau penggunaan automatisasi dapat memangkas anggaran produksi dan menghemat waktu pengerjaan. Hal itu akan menjadi pilihan pertama bagi industri untuk menjalankan proses produksinya dibandingkan merekrut orang dan membayar orang itu atas pekerjaannya.

Kalau (lagi), pemesanan transportasi menjadi lebih mudah dengan ponsel, opsi itu akan menjadi pilihan pertama bagi yang membutuhkan. Terutama saat keadaan mendesak/genting.

Akhirnya, kita lihat ada yang tumbuh dan juga ada yang hilang. Terutama dalam case dunia kerja. Semakin terasa perubahan zona di dunia kerja yang awalnya banyak merekrut posisi tertentu kemudian hilang atau berkurang kuotanya. Kini, muncul zona dan posisi baru di dunia kerja yang mungkin asing seperti : UX/UI (User experience/User Interface), Business Intellegent, Business scientist, Scrum master, dan masih banyak lagi pertumbuhan posisi di dunia kerja yang berkaitan dengan teknologi.

Menurut Haris Izmee, presiden direktur Microsoft Indonesia. Keberadaan teknologi dan perkembangan Artificial Intellegent sebenarnya ada untuk mengefisiensi pekerjaan dan meningkatkan produktivitas manusia. Pernyataan tersebut jelas apabila teknologi membawa keuntungan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana akhirnya manusia dapat berjalan beriringan dengan teknologi tersebut. Tentu, yang tidak dapat menyesuaikan akan kalah dan tertinggal dibelakang. Hal - hal inilah yang menjadi seleksi alam dalam kehidupan, kalah terhadap perubahan.

Pentingnya kemampuan beradaptasi.

Sejarah mengajarkan kita untuk dapat menerima dan beradaptasi di kondisi baru. Konsisten nyata yang dapat dilakukan adalah meningkatkan skill kita sebagai manusia di era teknologi ini. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang mulai memperhatikan adanya program pelatihan/training skill bagi karyawannya, ataupun organisasi profit yang menawarkan program pelatihan bagi kaum muda. Seperti hacktiv8 (coding bootcamp). Hal ini penting, sehingga keberadaan teknologi bukan untuk menggantikan keberadaan manusia. Akan tetapi mendukung kehidupan manusia.

Satu hal yang menjadikan manusia berbeda dengan robot/mesin, yaitu manusia memiliki hati dan pikiran. Beberapa teori mengatakan apabila terdapat profesi yang "mungkin" tidak bisa digantikan oleh keberadaan teknologi. Profesi yang melibatkan empati. Kita tidak pernah tau apa yang mungkin terjadi di masa depan. Tapi, selain hard skill penting juga untuk meningkatkan soft skill. Hal ini berkaitan dengan peran manusia dalam kehidupan. Bagaimana cara memimpin, berkomunikasi, mengambil keputusan, berpendapat, dan koordinasi. Kemampuan itulah yang menjadi keunggulan kita sebagai manusia.